peran orangtua dalam mendidik anak

Peningkatan Peran Orangtua Milenial terhadap Pendidikan Anak

Diposting pada

Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. Suatu pernyataan dalam pasal 31 ayat 1 UUD 1945 yang kembali memaknai betapa pentingnya pendidikan bagi setiap individu. Salah satu agenda penting dalam upaya mengatasi krisis kehidupan berbangsa adalah penerapan pendidikan karakter, pendidikan nilai, pendidikan moral, pendidikan akhlak serta pendidikan budi pekerti. Kesemuanya itu disatukan demi mendapatkan generasi terbaik untuk ikut berkontribusi terhadap kemajuan bangsa.

Dalam setiap proses pembelajaran, tentunya diawali dengan unit lembaga pendidikan terkecil yang bernama keluarga. Keluarga yang bagian intinya adalah orangtua, menjadi pemegang tampuk kekuasaan sekaligus navigator terhadap kehidupan anak. Bagaimana kedua individu ini bersinergi, berinovasi dan berkorban untuk mencetak generasi unggul yang berkompeten dalam menghadapi tantangan kekinian yang semakin kompleks.

Suatu ironi ketika tantangan kini tidak dihadapi dengan solusi yang mutahir. Begitu juga pendidikan anak di dalam keluarga. Kesalahan yang paling sering dilakukan dalam menangani pendidikan anak justru datang dari orangtua sendiri. Ada kesalahpahaman orangtua milenial dalam memaknai pendidikan anak, dengan hanya sebatas menafkahi pendidikan formal kognitifnya saja dan mengingkari kebutuhan afektif rohaninya.

Orangtua milenial yang terdiri dari Ibu dan Ayah zaman now, cenderung mengatasnamakan kepentingan karir dan pekerjaan untuk menutupi kekurangan waktu keduanya dalam mendidik anak. Menitipkan anak kepada pengasuh, memasukkannya ke PAUD dan atau mendaftarkan ke Sekolah Dasar lebih dini merupkan sebagian langkah antisipatif orangtua dalam menghadapi ketidakberdayaan mendidik anak.

Walaupun terkesan klise, ini adalah fakta yang terjadi belakangan ini. Orangtua lebih senang melihat anak berproduksi menghasilkan prestasi yang mereka sendiri tidak tahu apakah itu baik atau tidak bagi perkembangan buah hatinya.

Zaman teknologi informasi semakin melaju. Orangtua milenial dengan pemikiran “canggih” nya tidak akan bisa lagi berbaur dengan anak membahas tugas sekolah atau hanya sekedar curhat mengenai guru dan teman sebangkunya. Untuk mempersiapkan dasi dan topi upacara di hari senin saja keduanya sudah terlanjur apatis. Lantas menyuruh anak menyetel alarm pagi di gadget dan memberikan pengingat di aplikasi untuk membawa perlengkapan sekolah.

Apakah ini salah? Tentu saja orangtua tidak bisa menahan diri dari teknologi. Bukan hanya budak teknologi saja, orangtua milenial yang terbukti kolot dibanding anak, harus bisa mengantisipasi gap technology yang memungkinkan terjadinya penyalahgunaan wewenang oleh anak. Setidaknya kita bersama merumuskan beberapa langkah solutif yang bisa diterapkan untuk meningkatkan peran orangtua dalam pendidikan anak kini.

1. Menjadikan teknologi sebagai pembantu, bukan pengganti

Kini ada begitu banyak startup pembelajaran online dengan media website yang menyajikan konten pelajaran berupa teks, video dan presentasi kemudian diunduh dan disimpan kedalam gadget anak. Atau penggunaan aplikasi simulasi belajar yang dinilai lebih efektif membantu anak dalam memahami pelajaran. Sebagai orangtua fitur seperti ini memang harus dimanfaatkan.

Namun disatu sisi, orangtua juga harus paham betul bahwa teknologi dan perangkat turunannya mestilah dijadikan sebagai pembantu (karena fungsinya sebagai alat) bukan malah justru mengganti peran utama dalam proses pembelajaran anak.

Sebagai contoh bagaimana orangtua milenial kini memperlakukan anaknya dengan memberikan gadget pada usia dini. Alih – alih supaya melek teknologi, anak justru gagap dan tenggelam dalam dunianya sendiri. Gadget yang seharusnya digunakan untuk mempermudah pembelajaran tersebut, kini menjadi alat pelampiasan kebosanannya.

Orangtua harus bisa memberikan aturan ketat mengenai penggunaan gadget. Berikan pengawasan ganda memastikan bahwa anak benar-benar membuka informasi yang ditujukan sedari awal sebagai pembelajaran online. Install juga aplikasi controlling yang bisa mengawasi aktifitas didalam gadget anak. Selepas itu berikan jatah konsumsi gadget per harinya. Sehingga seperti yang diharapkan, kita bisa mempergunakan teknologi dengan benar dan mengambil manfaatnya.

2. Open minded antar anggota keluarga

Pemikiran yang transparan adalah modal dari keluarga yang rukun dan bahagia. Dalam pelaksanaannya, orangtua harus mampu merangsang anak bercerita segala peristiwa penting yang didapat dari sekolah dan pergaulannya.

Hal tersebut hanya dapat terwujud bila anak merasa dekat dengan orangtua. Hal inilah yang kemudian menjadi tantangan bagi orangtua milenial dalam memberlakukan quality time bersama anak.

Berikan waktu berbicara khusus seperti di pagi hari sebelum berangkat sekolah, ketika mengantarkan ke sekolah, setelah makan malam atau sebelum tidur. Ayah dan ibu juga bisa mabar game online kesukaannya. Waktu singkat yang diolah secara berkesinambungan akan menghasilkan karakter anak yang cepat akrab dengan orangtua. Inilah modal penting dalam meningkatkan kualitas pola pendidikan anak.

3. Menghindari pihak ketiga dalam proses pembelajaran anak

Dimana-mana pihak ketiga memang selalu mengkhawatirkan. Ayah dan ibu milenial tidak bisa mengurus anak, kemudian mempekerjakan pengasuh, minta tolong kepada orangtua untuk merawat cucunya atau menitipkan anak ke tempat penitipan.

Pihak ketiga tersebut sebetulnya bisa dihilangkan apabila salah satu dari orangtua mengalah dalam karir-nya. Anda yang protes mahalnya biaya hidup saat ini, tentu bukanlah orangtua yang memiliki pemikiran panjang mengenai investasi pendidikan anak. Karena bekal pendidikan terbaik berasal dari orangtua, itu jelas tidak tergantikan. Teknologi bisa saja lebih baik secara teknis, namun orangtua adalah pendidik paling komplit yang pernah ada.

Anda bisa percaya atau tidak, anak yang dekat dengan ibunya memiliki kecerdasan emosional lebih baik ketimbang anak yang sering dititipkan kepada pihak ketiga. Tentunya sangat menyakitkan bila anak lebih dekat dengan nenek atau pengasuhnya daripada dengan Ibu kandungnya. Bila memang harus bekerja upayakan setengah hari, sisanya adalah waktu anda untuk mengurus anak.

4. Interaksi daring antar anak dan orangtua

Lagi, orangtua milenial bisa memanfaatkan teknologi informasi sebagai media kedekatan terhadap anak. Kesibukan dan jarak sudah tidak menjadi penghalang lagi untuk sekedar berkomunikasi dan menciptakan kedekatan.

Curhatan online dari anak harusnya ditagih dengan teknik pendekatan yang alami. Manfaatkan aplikasi chatting dan video call untuk berbagi cerita kecil seputar kesehariannya. Dengan begitu, barulah teknologi bisa dikatakan sebagai alat pembantu kemajuan pendidikan anak.

5. Hindari gap technology dengan terus belajar

Teruslah membuka diri terhadap inovasi teknologi informasi. Dahulu, orangtua hanya diajari menggunakan papan tulis kapur, buku bergambar dan puzzle kayu saja. Tetapi kini anak sudah lebih maju daripada orangtuanya dalam hal mencari channel Youtube kesukaan, stalking Instagram idolanya juga membuat status di akun WhatsApp miliknya.

Orangtua milenial tidak pernah tahu hal baru apalagi yang telah dipelajari anak diluar ketika dia sedang mengakses internet. Sementara kita sudah tertinggal dibelakang mereka. Oleh karena itu jadilah orangtua yang terus belajar dengan teknologi. Jangan apatis dan membiarkan anak “membodohi” anda. Sebaliknya kuasai dan jadikan sebagai alat pembelajaran dan berikan pemahaman terbaik supaya nantinya dia bisa matang dalam menghadapi tantangan global.

Semoga saja dengan berbagai langkah kongkrit diatas, orangtua milenial bisa meningkatkan perannya dalam proses pendidikan anak. Karena anak adalah anugerah, memperlakukannya sebagai aset jangka panjang dengan kontribusi maksimal dari orangtua adalah pilihan wajib yang harus dilakukan.

Tulisan ini dibuat atas dasar pemikiran saya dengan referensi dari laman sahabatkeluarga. Juga diikutsertaan ke dalam lomba blog yang diadakan oleh Kementrian Pendidikan dan Budaya Republik Indonesia dengan tajuk #sahabatkeluarga. Anda yang tertarik ingin berpartisipasi silahkan kunjungi situs resmi sahabatkeluarga untuk informasi teknis lomba. Dapatkan total hadiah senilai 46 juta Rupiah bagi kamu yang berhasil memenangi lomba blog ini.