Realisasi Mencintai Rupiah Kini

Aku cinta Rupiah. Bagi anak kecil zaman old itu adalah sebuah nyanyian Cindy Cenora di penghujung milenium I. Gerakan Cinta Rupiah kala itu diprakarsai oleh Bu Tutut Hadiarti Rukmana guna memperkuat Rupiah yang sedang mengalami keterpurukan. Kini semangat aku cinta Rupiah kembali digalakkan demi menghadapi globalisasi dan ekonomi bebas.

Tapi kan itu hanya nyanyian anak – anak yang klise? Perhatikan. Kita orang dewasa justru tidak lebih baik ketimbang anak kecil dalam menghormati Rupiah. Orang dewasa menganggap Rupiah sebagai alat pembayaran yang kepemilikannya terus berganti, tidak ada kasih sayang. Anak kecil memiliki Rupiah sebagai aset yang ia lindungi sepenuh hati. Walaupun stereotipe ini tidak bisa dijadikan ukuran baku perlakuan Rupiah, cukuplah menjadi alasan introspeksi kita dalam menggunakan mata uang tercinta ini.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bagaimana dengan tiga orang ini?

Rikhal sebagai seorang pekerja buruh bangunan rela banting tulang demi menghidupi keluarganya. Gaji yang dia terima diberikan dalam bentuk tunai dengan sistem harian. Dia meremas, melipat atau memegang Rupiah saat tangannya masih terdapat material sisa bangunan. Dia menyimpan gajinya didalam dompet yang diletakkan disaku celana belakang. Tidak jarang dompetnya jatuh terkena air. Kalau sudah begitu dia mengeringkan Rupiah yang basah menggunakan badan periuk bekas masak sayur.
Saya memiliki teman namanya Udin. Dia suka menyimpan berbagai jenis mata uang asing seperti Dollar, Poundsterling, Euro dan lainnya. Dia menganggap bahwa mengoleksi mata uang luar negeri adalah sebagai suatu hobi. Rasanya dia lebih senang menyimpan mata uang asing ketimbang Rupiah. Tujuannya tidak lain hanyalah untuk kepuasan semata.
Berbeda dengan Ikhsan, yang merupakan seorang mahasiswa jurusan teknologi informasi. Tingginya tren penggunaan mata uang digital menjadikannya tergila – gila akan BitCoin. Apalagi nilai tukarnya terhadap Rupiah juga semakin tinggi. Setiap transaksi online yang dia lakukan selalu menggunakan mata uang enkripsi tersebut karena dinilai lebih aman dan kekinian.

Well, ketiga kasus diatas hanyalah segelintir kisah tentang ketidak-berpihakan kita terhadap Rupiah. Penggunaan Rupiah memang wajib. Tetapi kesan prestise pada kasus Udin menyadarkan kita bahwa Rupiah tidak selamanya dibanggakan oleh warga negara ini. Untuk itu kita perlu menyadari seberapa besar sih realisasi kita dalam mencintai Rupiah?

Flashback Rupiah

Rupiah memang tidak terlepas dari sejarah bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemandirian ekonominya pada era kemerdekaan. Rupiah menggantikan ORI (Oeang Republik Indonesia) sebagai pendahulunya dan menjadi mata uang resmi Negara Kesatuan Republik Indonesia yang ditetapkan pada 02 November 1949.

Dalam kurun waktu era kemerdekaan hingga reformasi sekarang, wajah Rupiah terus mengalami perubahan dalam bentuk fisik maupun nilai. Kini kita sudah lumrah memakai Rupiah. Bertransaksi dengan Rupiah. Menabung pakai Rupiah. Bersedekah menggunakan Rupiah. Isi dompet kita Rupiah. Bahkan mempersunting dan menentukan mahar doi juga dengan Rupiah. Jadi bila ada yang memandang sebelah mata terhadap Rupiah, ada yang salah dengan dirinya. Apa yang perlu dilakukan untuk menanamkan kecintaan terhadap Rupiah?

Simpan Baik – Baik

Menyimpan Rupiah secara fisik mungkin sudah mulai ditinggalkan oleh kaum milenial. Tetapi saudara kita di daerah lain masih terbiasa menyimpan fisik Rupiah ke dalam gentong, celengan, bawah ubin atau disembunyikan di kantong yang dijahit khusus kemudian ditaruh disela celana atau baju. Hindari menyimpan Rupiah dengan cara anti-mainstream begitu karena bakal merusak fisik Rupiah.

Yang kita lakukan adalah pilihlah wadah yang benar – benar bisa menjaga fisik Rupiah. Simpan baik – baik ditempat yang sunyi, sepi dan senyap (bukan di hatimu lho). Lebih bagus lagi bila menyimpan Rupiah di Bank yang sudah punya jaringan ATM yang tersebar di berbagai daerah (agar lebih mudah tarik tunainya) Karena selain bisa menjaga fisik, juga bisa terbebas dari resiko kehilangan karena disimpan didalam brankas Bank yang terstandarisasi.

Hindari Segala Bentuk Kekerasan Fisik

Duilee, sudah semacam kekerasan dalam rumah tangga aja gitu ya? Tapi memang benar, kita dituntut untuk menjaga Rupiah dari kekerasan yang berpotensi merusak fisiknya. Jangan meremas, melipat, mencoret pake nomor hp (ini nih kebiasaan para jones) dan segala bentuk vandalisme uang,  men-staples, mengikat kuat, mencabut benang pengaman, terkena air dan minyak (dan segala jenis zat merusak), membakar, mencetak ulang, menjadikan alat judi, gratifikasi, korupsi, kolusi dan nepotisme (ini kok jauh meleset ya?)

Intinya sejauh kita menjaga fisik Rupiah, kita sudah berkontribusi menghemat biaya percetakan uang. Lho, kok bisa? Rupiah dicetak memerlukan biaya material dan tenaga kerja. Dilansir dari detik.com, biaya cetak Rupiah per tahunnya mencapai 3,5 trilliun. Bayangkan bila 10% Rupiah yang beredar dalam kondisi tidak layak pakai (karena kebodohan kita), BI tentunya menggelontorkan lebih banyak biaya lagi untuk mencetak Rupiah baru. Kesimpulannya, mempertahankan bentuk fisik Rupiah sebaru mungkin bisa membantu penghematan anggaran.

Hukuman dan denda bagi orang yang sengaja merusak uang, merujuk pada Pasal 35 Undang-undang Nomor 7 Tahun 2011. Ayat pertama menyebut setiap orang yang sengaja merusak, memotong, menghancurkan, dan mengubah nilai Rupiah dengan maksud merendahkan kehormatan Rupiah termasuk tindakan pidana dengan maksimal lima tahun dan denda maksimal Rp 1 miliar. Ngeri tidak, bila kamu mesti dipenjara karena merusak fisik Rupiah? Makanya jangan sepele dengan “harga diri” mata uang kita.

Ganti Rupiah Lusuh, Rusak, Sobek dan yang Tidak Berlaku Lagi ke Bank

Ternyata bukan hanya mantan yang bisa diganti, Rupiah juga. Mengganti Rupiah yang sudah tidak layak merupakan langkah dukungan kita dalam peredaran uang yang berkualitas di dalam negeri. Bila kamu mendapat Rupiah dalam kondisi tidak layak edar, segera kunjungi kantor pusat Bank Indonesia, kantor perwakilan dalam negeri (KPw-DN) Bank Indonesia dan kas keliling Bank Indonesia untuk menukarkannya dengan Rupiah baru yang lebih mulus.

Rupiah keluaran lama yang sudah dicabut ijin peredarannya juga bisa kita tukarkan ke Bank Indonesia dengan syarat kondisi fisik masih dikenali keasliannya dan masih dalam jangka waktu 10 tahun semenjak pengumuman pencabutan dimulai.

Penukaran Rupiah sepenuhnya gratis. Tidak ada margin. Tidak ada nilai minimum pecahan Rupiah untuk bisa ditukarkan. Kamu bebas mengganti Rupiah berapapun nominalnya. Jadi tidak ada alasan buat kamu untuk tidak menukarkan Rupiah yang tidak layar edar. Jangan disimpan atau dibuang. Kalau bisa diganti menjadi lebih mulus, kenapa tidak? Begitu juga dengan mantan, kalau bisa move-on, kenapa tidak?

Pakai dalam Setiap Transaksi

Setelah dikeluarkannya Peraturan Bank Indonesia Nomor 17/3/PBI/2015 tentang Kewajiban Penggunaan Rupiah di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, maka kita wajib menggunakan Rupiah dalam setiap aktifitas perekonomian didalam negeri.

Bahwa kita dituntut untuk membeli mie instan, menggaji karyawan, belanja online, bayar token, kasih sumbangan, menentukan mahar doi sampai merancang APBN menggunakan Rupiah tercinta. Selagi NKRI masih berdiri kokoh, Rupiah akan tetap menjadi identitas kita. Menggunakannya berarti bukti nyata dukungan terhadap kemandirian ekonomi Indonesia di tengah ekonomi global.

Kamu mendapati pihak penjual memberikan permen sebagai kembalian? Tegur dan kabarkan tentang peraturan Bank Indonesia diatas serta Undang – Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang. Kalau dia masih ngeyel, ancam dengan sanksi pidana kurungan paling lama satu tahun dan denda maksimal Rp 200 juta. Ingat, berapa pun sisa kembaliannya, wajib dikembalikan dalam bentuk Rupiah.

Pantengin tuh Rupiah, Cium, Belai, Jagain Layaknya Pacar yang Baru Jadian Dua Hari

Walaupun tips ini rada – rada ngenes bagi jomblo akut seperti saya, namun cukup efektif unntuk meningkatkan kecintaan kita terhadap Rupiah. Waktu masih kecil bahagia mencium aroma Rupiah baru yang dikasih Bapak sebelum berangkat sekolah. Rupiahnya dijaga, diliatin, dibanggakan di depan teman – teman sampai tidak mau dibelikan cakue padahal perut sudah lapar.

Rupiah, sebagaimana mata uang lainnya memang tidaklah sempurna. Tetapi keberadaannya menjadi identitas pembeda kita dengan negara lain. Karena sebagai bagian dari  warga negara, tentu cinta rupiah adalah bagian dari nasionalisme. Maksudnya, nasionalisme juga bisa dibuktikan dengan sesederhana kita menyayangi Rupiah.

Lapor ke Polisi atau Bank Indonesia bila Menemukan Rupiah Palsu

Cinta doi palsu? Tenang, kasih Rupiah, pasti jadi asli. Tapi kalau Rupiah yang palsu, jangan pura – pura bego dengan membelanjakannya kembali. Tapi kan rugi? Lebih baik mana, rugi di dunia atau rugi di akhirat? (duilee, kesannya agamis banget). Tapi ini benar, kamu memiliki kewajiban untuk melaporkannya. Terlebih bila mengetahui jaringan pengedarnya. Jangan diam!

Bank Indonesia tidak akan mengganti uang palsu yang kamu miliki tersebut meskipun tak sengaja memperolehnya. Karena Bank Indonesia bukanlah pihak yang menanggung kerugian akibat uang palsu. Bank Indonesia hanya sebagai otoritas yang memusnahkan uang palsu. So, mesti legowo dan lebih berhati – hati lagi guys saat menerima Rupiah. Ingat terus slogan cek Rupiah, 3D (Dilihat, Diraba, Diterawang …)

Rupiah Emisi 2016 Makin disayang

Rupiah dengan tampilan baru resmi dikeluarkan pada tanggal 19 Desember 2016 yang lalu oleh Presiden Joko Widodo. Sejumlah uang rupiah kertas yang baru dikeluarkan yaitu pecahan 100 ribu bergambar Ir. Soekarno dan Drs. Mohammad Hatta bercorak merah, pecahan 50 ribu bergambar Ir. H. Djuanda Kartawidjaja bercorak biru, pecahan 20 ribu bergambar Dr. G.S.S.J. Ratulangi bercorak hijau, pecahan 10 ribu bergambar Frans Kaisiepo bercorak ungu, pecahan 5 ribu bergambar Dr. K.H. Idham Chalid bercorak kecoklatan, pecahan 2 ribu bergambar Mohammad Hoesni Thamrin berwarna abu-abu dan terakhir pecahan seribu bergambar Tjut Meutia bercorak hijau.

Tidak hanya uang kertas, Rupiah logam juga ikut kebagian jatah baru. Logam pecahan 1000 bergambar Mr I Gusti Ketut Pudja, pecahan 500 bergambar Letjen (Purn) Tahi Bonar Simatupang, pecahan 200 bergambar Dr. Tjiptomangunkusumo dan pecahan 100 bergambar Prof. Dr. Ir. Herman Johanes.

Kesan pertama melihat Rupiah tahun edisi 2016 ibarat ikut konsernya JKT48, meriah dan penuh warna 😀 Desainnya tentu lebih fresh, kontras dengan warna masing – masing. Pertama mendapat Rupiah baru serasa nggak tegaan untuk membelanjakannya. Jujur, ini adalah versi Rupiah terkeren menurut saya.

Rupiah baru juga ramah terhadap tuna netra dan tentunya memiliki fitur pengaman yang lebih oke punya. Seperti sudah dilengkapi dengan teknologi rainbow feature, color shifting, latent image, ultra violet feature, tactile effect, dan rectoverso yang menjadikannya lebih sulit bahkan nyaris mustahil untuk dipalsukan.

Redenominasi, Bikin Rupiah Makin Ciamik

Bank Indonesia sebagai otoritas moneter Indonesia sudah punya rencana me-redenominasi Rupiah sejak Darmin Nasution menjabat sebagai Gubernur BI. Redenominasi artinya mengurangi nilai pecahan Rupiah tanpa mengurangi nilainya dengan menghilangkan 3 angka 0 terakhir (1000 menjadi 1 dan seterusnya)

Rupiah hasil redenominasi terkesan premium. Tidak perlu nominal banyak untuk hang-out ke cafee. Nantinya di menu bakal tertulis Cafe Latte seharga Rp 5 k dan Espresso Rp 4.5 k. Selain prestise, Redenominasi juga meningkatkan efisiensi akuntansi, transaksi bisnis dan perbankan karena setiap transaksi pembukuan berkurang nolnya yang menjadikannya lebih sederhana.

Redenominasi juga meningkatkan kesadaran kita terhadap eksistensi uang receh. Penggunaan satuan sen bakal lebih berguna untuk keperluan pengembalian uang yang sering mengalami pembulatan. Dengan demikian, Bank Indonesia bisa menata kembali peredaran uang receh yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat.

Pada akhirnya, rencana redenominasi Rupiah masih belum bisa terealisasi karena beberapa alasan seperti kondisi kurs dan inflasi yang belum stabil, bukan menjadi prioritas, membutuhkan sosialisasi yang massif dan mesti menunggu persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat melalui pengesahan Undang – Undang. Kita tunggu saja ya guys, seperti menunggu gebetan mengutarakan perasaannya.

Hilangkan Hoax Mengenai Rupiah Baru

Ini nih yang kebanyakan generasi micin lakukan. Menyebar hoax tentang Rupiah baru yang katanya mirip uang mainan-lah, mirip mata uang tiongkok-lah, mudah luntur-lah dan bla-bla-bla. Kalian yang suka nyir-nyir dengan Rupiah baru tidak akan bisa menghargai hasil kerja keras orang lain. Tahu tidak kalau penciptaan Rupiah baru itu sudah melalui proses mendalam oleh tim yang kompeten dibidangnya? Kamu yang masih merengek minta Rupiah kepada orangtua tidak sepantasnya percaya atau bahkan menyebarkan informasi palsu tersebut. Jadilah generasi cerdas tanpa hoax. Majukan negeri ini dengan karya dan sikap positif.

Karena setiap lembar Rupiah adalah bukti kemandirian Indonesia, kemandirian ekonomi kita di tengah ekonomi dunia. Dan di dalam setiap lembar Rupiah kita tampilkan gambar pahlawan nasional, tari nusantara, dan pemandangan alam Indonesia sebagai wujud kecintaan budaya dan karakteristik bangsa Indonesia,” sekiranya begitulah isi pidato presiden Joko Widodo ketika meresmikan Rupiah baru yang dikutip dari laman presidenri.go.id

Artikel ini berupa tips mencintai Rupiah yang diikutsertakan dalam lomba blog Bank Indonesia bekerjasama dengan Netmediatama dengan tema “Cinta Rupiah” berhadiah total puluhan juta Rupiah. Tertarik? Silahkan ikuti lombanya dengan mengunjungi situsnya di cintarupiah.id

Unduh Aplikasi Bank Indonesia dan Netmediatama di Google Play dan App Store Sekarang Juga!

Resmi diluncurkannya Local Currency Settlement (LCS) Framework antara Bank Indonesia dengan Bank Negara Malaysia dan Bank Of Thailand yang bertujuan dalam penyelesaian perdagangan bilateral dan investasi menggunakan mata uang lokal yaitu Rupiah, Ringgit dan Baht. Kerjasama ini dapat mengurangi risiko nilai tukar, mengurangi biaya transaksi perdagangan serta mendorong pengembangan pasar keuangan domestik berbasis mata uang lokal.

Operasionalisasi LCS akan difasilitasi oleh bank-bank lokal disetiap negara yang akan efektif beroperasi mulai 2 Januari 2018. Kita dukung terus upaya Bank Indonesia dalam memajukan Rupiah!

A post shared by Bank Indonesia (@bank_indonesia) on

  • naskah sosialisasi cinta rupiah
  • Pamflet tema cinta rupiah

Comments 10

adminsibakua

Desember 20, 2017

Silahkan berkomentar dengan sopan dan baik 😀

Asrul

Desember 20, 2017

keren postingannya gan

Syahrul

Desember 21, 2017

Bang, lombanya deadlinnya kpaan ?

adminsibakua

Desember 21, 2017

syahrul : sampai tanggal 31 gan,

adminsibakua

Desember 21, 2017

Asrul : trims, gan 🙂

sultan

Desember 23, 2017

Blog nya keren nih

zaisman

Desember 26, 2017

Lengkap bener pembahasannya

adminsibakua

Desember 28, 2017

zais : yang lengkap semakin baik kan gan?

adminsibakua

Desember 28, 2017

sultan : trims gan !

faizin

Januari 22, 2018

mantab artikelnya