Apakah kamu sedang mencari pituah atau pepatah orang minang? Indonesia adalah salah satu negara Multikultural, yang terdiri atas banyak sekali suku dan budaya berbeda, serta tersebar dari barat ke timur. Selain itu, perbedaan bahasa juga menyelimuti negeri ini. Namun di sisi lain, semuanya tetap bersatu dalam pangkuan ibu Pertiwi.
Dari sekian banyak suku, salah satu suku ternama sekaligus tersohor ialah Minangkabau, sebuah kelompok etnis yang berpusat di Sumatera Barat, serta menyebar hingga ke Seluruh Sumatera dan sebagian pulau Jawa.
Untuk soal Pepatah dan pituah bijak sebagai pedoman hidup, Minangkabau adalah rajanya. Ini disebabkan karena ajaran agama yang murni sejak zaman dahulu, mulai dari masa kejayaan Pagaruyung, hingga Niniak Mamak dan tokoh masyarakat yang kita temui hari ini.
Selain itu, Minangkabau juga terkenal dengan syair-syair yang penuh ajaran. Tidak hanya sebatas penyampai dari mulut ke mulut, namun juga diaplikasikan ke dalam kesenian dan sastra, misalnya puisi, pantun berbalas, lirik lagu dan lainnya.
Namun meskipun begitu, mayoritas pituah-pituah Minangkabau masih dalam bahasa Minang, dalam arti kata, belum banyak terjemahannya yang terekspos dalam bahasa Nasional.
Pituah Minang untuk Kehidupan

Nah, untuk itu, disini sibakua akan merangkum beberapa Pituah Minang untuk Kehidupan, yang dilengkapi dengan arti / makna didalamnya. Silakan disimak uraiannya di bawah ini :
1. “Anak ikan dimakan ikan, gadang ditabek anak tenggiri. Ameh bukan perakpun bukan, budi saketek rang haragoi.”
Artinya : Anak ikan dimakan ikan, anak Tenggiri tumbuh di kolam. Bukan emas bukan pula perak, Budi sekecil apapun pasti dihargai orang.
Maknanya : Dalam kehidupan bersosial, seseorang akan lebih dihargai oleh orang lain, ketika segala perbuatan positif yang ia lakukan, bisa memberi dampak yang positif pula terhadap orang lain, lingkungan dan negara, bakti seperti ini akan jauh dihargai daripada orang yang punya harta melimpah namun tak menyumbang dedikasi apapun.
2. “Tarandam randam indak basah, tarapuang apuang indak hanyuik.”
Artinya : Tidak basah ketika terendam, tidak hanyut ketika terapung.
Maknanya : Suatu perkala, masalah ataupun persoalan yang terjadi di tengah-tengah masyarakat, tidak akan hilang bila tidak diselesaikan alias dibiarkan begitu saja. Untuk itu, perlu diadakan perundingan melalui musyawarah dan mufakat, dalam menemukan jalan keluar yang disetujui semua pihak.
3. “Bajalan paliharolah kaki, bakato paliharolah lidah.”
Artinya : Peliharalah kaki ketika berjalan, kendalikan lidah saat bertutur kata.
Maknanya : Yang dimaksud memelihara kaki saat berjalan disini adalah, anjuran untuk berhati-hati dalam menjalani kehidupan di atas bumi ini, jangan hanya melakukan segala hal yang kita kehendaki saja, karena setiap perbuatan selalu ada konsekuensinya.
Sedangkan makna Mengendalikan lidah saat berkata yakni, pikirkan matang-matang atas apa yang hendak disampaikan kepada seseorang, supaya ucapan kita tidak sempat menyinggung ataupun menyakiti hati lawan bicara.
4. “Bak balam talampau jinak, gilo ma-angguak-anguak tabuang aia, gilo mancotok kili-kili.”
Artinya : Ibarat seekor burung Balam yang terlalu jinak, hanya mengangguk-angguk kepala sambil makan dan minum.
Maknanya : Jangan terlalu mudah percaya dengan orang lain, apalagi jika berhubungan dengan perkara yang besar. Ketahui terlebih dahulu seperti apa dan bagaimana watak orang tersebut, sebelum menyetujui keputusan apapun.
5. “Bakato bapikiri dulu, ingek-ingek sabalun kanai, samantang kito urang nan tahu, ulemu padi nan kadipakai.”
Artinya : Berpikirlah dulu sebelum berucap, pertimbangkan dulu sebelum terlanjur. Meski kita banyak ilmu, semakin berilmu semakin rendah.
Artinya : Saat seseorang telah mencapai tingkatan ilmu dan pengetahuan yang tinggi, hendaklah hal tersebut tidak menjadikan dia orang yang sombong, angkuh, merasa paling benar dan egois. Tetaplah menjadi orang yang merasa sederajat, bersyukur, serta mau berbagi ilmu dengan ikhlas tanpa memandang rendah orang lain.
6. Anak ikan dimakan ikan, gadang ditabek anak tenggiri
Ameh bukan perakpun bukan, budi saketek rang haragoi.
Maknanya yaitu : Hubungan yang erat sesama manusia bukan karena emas dan perak, akan tetapi lebih diikat dengan budi pekerti yang baik
7. Ibarat kato tarandam randam indak basah,
tarapuang apuang indak hanyuik
Maknanya yaitu : Segala permasalahan hidup yang tidak didudukan dan pelaksanaannya dilalaikan
8. Anggang nan datang dari lauik,
tabang sarato jo mangkuto,
dek baik budi nan manyam buik,
pumpun kuku patah pauahnyo.
Maknanya yaitu : Seseorang bisa disambut dengan budi yang baik serta tingkah laku yang sopan
Sehingga musuh sekalipun tidak akan menjadi ganas
9. Baribu nan tidak lipuah,
jajak nan indak hilang
Maknanya adalah : Salah satu ajaran yang tetap berkesan, yang diterima turun temurun semasa hidup
10. Baguru kapadang data,
dapek ruso baling kaki,
baguru kapalang aja,
nan bak bungo kambang tak jadi
Maknanya adalah : Jika salah satu jenis pengetahuan yang tanggung dipelajari tidak lengkap dan cukup, maka akan kurang bisa dimanfaatkan
Kata Penutup
Bagaimana, apakah sobat sibakua sudah mengerti sedikit2 tentang bahasa minang? Semoga menjadi referensi yang menambah pengetahuan ya. Demikianlah, ulasan kali ini mengenai 5 Pituah Minang untuk kehidupan beserta arti dan maknanya.
Semoga ulasan ini bisa bermanfaat dan dijadikan motivasi, agar bisa menjalani hidup untuk lebih baik lagi. Dan jangan lupa untuk klik tombol share, serta bagikan artikel ini ke sosial media kalian ya, Terima kasih.